Pagar Hijau Hutan Bakau Aceh
By aoc
Hutan bakau adalah istilah yang lebih populer didengar masyarakat untuk menyebut ekosistem hutan mangrove. Bakau sendiri sebenarnya adalah salah satu jenis tumbuhan mangrove dari jenis (genus) Rhizopora. Hutan bakau memiliki kisahnya tersendiri di mata masyarakat Aceh ketika bencana tsunami tahun 2004 melanda. Sebagai contoh, di Sabang saat ini ekosistem hutan mangrove yang sudah menjadi pohon merupakan sisa-sisa yang masih hidup tatkala di terjang tsunami. Hutan mangrove sebagai benteng terakhir penahan gelombang banyak mengalami kerusakan pada saat tsunami.
Ekosistem hutan mangrove Aceh dengan luas sekitar 309,07 km2 banyak tersebar di wilayah pesisir timur terutama Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Mangrove adalah tumbuhan yang hidup di daerah estuaria yang memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas. Selain itu mangrove memiliki bentuk adaptasi lain terhadap lingkungannya yang dapat dilihat dari bentuk perakaran, lentisel yang terdapat di akar dan juga kemampuan untuk mempertahankan air tawar dalam tubuhnya. Tercatat saat ini ada 30 jenis mangrove yang teridentifikasi di Aceh dengan kondisi rata-rata kerapatan pohon mangrove 1.811 ind/ha.
Jenis yang paling dominan ditemukan di Aceh yaitu Rhizopora apiculata. Spesies tersebut ditemukan sebanyak 31 kali dari 58 lokasi pengamatan di 14 kabupaten/kota Provinsi Aceh. Selain itu Sonneratia caseolaris dan Rhizopora mucronata adalah jenis mangrove yang juga banyak ditemukan sebarannya di Provinsi Aceh. Sementara itu, jenis-jenis mangrove lain yang dapat ditemukan di Aceh terdiri dari Aegiceras corniculaturn, Aegiceras floridum, Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia officinalis, Barringtonia asiatica, Bruguiera agallocha, Bruguiera cylindrica, Bruguiera gymnorhiza, Bruguiera sexangula, Cerbera manghas, Ceriops tagal, Dotichandrone spathacea, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littorea, Melastoma candidum, Nypa fruticans, Pandanus sp, Pandanus tectorius, Phoenix palludosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Scaevola taccada, Scyphiphora hydrophyllacea, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus molluccensis.
Zonasi mangrove dibedakan berdasarkan jarak tumbuhan mangrove ke arah darat dan ke arah laut. Sistem zonasi mangrove dari arah laut ke darat yaitu Avicenia, Bruguiera, Rhizopora, Sonneratia, dan Nypa. Sistem zonasi yang lengkap seperti ini dapat ditemukan di wilayah pesisir timur Aceh. Tiga puluh jenis mangrove yang ditemukan di Aceh menjadi sumber daya keanekaragaman hayati yang penting bagi ekosistemnya. Mangrove berdasarkan tingkat pertumbuhannya dibedakan menjadi tiga kategori yaitu seedling, sapling, dan pohon. Saat ini di Aceh jumlah kerapatan mangrove yang paling tinggi dari kategori pohon, kemudian seedling, lalu sapling.
Ekosistem hutan mangrove Aceh dengan luas sekitar 309,07 km2 banyak tersebar di wilayah pesisir timur terutama Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Mangrove adalah tumbuhan yang hidup di daerah estuaria yang memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas. Selain itu mangrove memiliki bentuk adaptasi lain terhadap lingkungannya yang dapat dilihat dari bentuk perakaran, lentisel yang terdapat di akar dan juga kemampuan untuk mempertahankan air tawar dalam tubuhnya. Tercatat saat ini ada 30 jenis mangrove yang teridentifikasi di Aceh dengan kondisi rata-rata kerapatan pohon mangrove 1.811 ind/ha.
Jenis yang paling dominan ditemukan di Aceh yaitu Rhizopora apiculata. Spesies tersebut ditemukan sebanyak 31 kali dari 58 lokasi pengamatan di 14 kabupaten/kota Provinsi Aceh. Selain itu Sonneratia caseolaris dan Rhizopora mucronata adalah jenis mangrove yang juga banyak ditemukan sebarannya di Provinsi Aceh. Sementara itu, jenis-jenis mangrove lain yang dapat ditemukan di Aceh terdiri dari Aegiceras corniculaturn, Aegiceras floridum, Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia officinalis, Barringtonia asiatica, Bruguiera agallocha, Bruguiera cylindrica, Bruguiera gymnorhiza, Bruguiera sexangula, Cerbera manghas, Ceriops tagal, Dotichandrone spathacea, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Lumnitzera littorea, Melastoma candidum, Nypa fruticans, Pandanus sp, Pandanus tectorius, Phoenix palludosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Scaevola taccada, Scyphiphora hydrophyllacea, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus molluccensis.
Zonasi mangrove dibedakan berdasarkan jarak tumbuhan mangrove ke arah darat dan ke arah laut. Sistem zonasi mangrove dari arah laut ke darat yaitu Avicenia, Bruguiera, Rhizopora, Sonneratia, dan Nypa. Sistem zonasi yang lengkap seperti ini dapat ditemukan di wilayah pesisir timur Aceh. Tiga puluh jenis mangrove yang ditemukan di Aceh menjadi sumber daya keanekaragaman hayati yang penting bagi ekosistemnya. Mangrove berdasarkan tingkat pertumbuhannya dibedakan menjadi tiga kategori yaitu seedling, sapling, dan pohon. Saat ini di Aceh jumlah kerapatan mangrove yang paling tinggi dari kategori pohon, kemudian seedling, lalu sapling.